TENGGO..alias pulang tepat waktu,
kebiasaan yang semua penghuni kantor lakukan bila si OB tidak masuk kerja,
seperti biasanya saya naik angkot untuk mengantar saya sampai kerumah, bukan
tidak ada keinginan untuk naik si roda dua peminum bensin itu, tapi saya belum ada
keberanian untuk berselancar dijalan raya alias nyalinya belum kumpul untuk
bisa naik motor ke kantor. Jadi alternativenya ya naik angkot atau ojek yang
bisa duduk manis dan diantar sampai tujuan.
Sebenarnya malas pulang cepat
tapi sekarang saya lagi jadi anak manis nih yang tidak pernah nge-mal lagi,
karena saya lagi keranjingan mengaji selepas sholat magrib hingga datang waktu
isya, sebenarnya ada keinginan untuk ngaji private tapi sekarang lagi menikmati
mengaji sendirian dulu ala ria walaupun dengan ilmu tajwid yang ala kadarnya,
yang penting nawaitunya baik ya hehe.. padahal dulu waktu kecil saya bisa baca
huruf arab gundul hingga menjadi rangkaian kalimat tapi kenapa sekarang blank
ya..hmm
Oiya balik lagi ke angkot tadi,
sekitar di daerah puri naiklah seorang bapak yang raut wajahnya seperti saya
pernah mengenalnya, akhirnya saya mengingatnya juga rupanya si bapak ini dahulu adalah salah satu pengajar di sekolah dasar kakak perempuan saya. Dulu sewaktu usia saya memasuki sekitar lima
tahunan pernah ikut ke sekolah kakak saya, dan saya bertemu si bapak guru itu,
baikkk sekali orangnya makanya hingga waktu berlalu hampir tiga puluh tahunan telah berlalu tapi saya
masih mengingatnya.
Sepanjang perjalanan mata saya tertuju pada si bapak itu, saya perhatikan rambutnya
‘klimis’ banget si bapak, bajunya dan tasnya sangat sederhana. Saya jadi terenyuh ko bisa ya dengan
jam terbang beliau mengajar yang mungkin bisa sudah sekitar lebih dari empat puluh tahunan. Dengan
tekunnya beliau menjalani profesinya tapi tetap dengan kesederhanaan tanpa
transportasi yang memadai, walaupun hanya
dengan sekedar sepeda motor. Padahal diluar sana banyak mungkin rekan kerjanya yang lain yang kehidupannya bisa lebih memadai, menggunakan transportasi pribadi kala mengajar, dan bahkan mungkin saja anak-anak didiknya
sudah berhasil dengan profesi mereka masing-masing, tapi beliau masih hidup
dengan kesederhanaan.
Hingga saya sampai ditujuan si
bapak belum turun juga, sepanjang jalan menuju rumah saya cuma bisa mendoakan
semoga beliau diberikan umur panjang dan rizki yang lebih oleh Allah SWT,
sehingga bisa menjalani hari tuanya dengan sejahtera. Tetaplah setia memberikan
ilmunya ya pak pada adik-adik kecil disekolah agar bisa menjadikan nasib negeri ini
lebih baik lagi dengan mempunyai anak-anak
bangsa yang bisa dibanggakan.
Ria@buchari
No comments:
Post a Comment
Mohon jangan berkomentar SPAM, terimakasih.